Perbedaannya ada pada mineral dan cara pengolahan
Air mineral mengandung mineral terlarut seperti kalsium dan magnesium dalam jumlah yang berbeda-beda menurut sumber serta produknya. Air demineral diproses—misalnya dengan reverse osmosis, distilasi, atau deionisasi—untuk mengurangi sebagian besar ion dan mineral terlarut. Karena itu, air demineral umumnya mempunyai TDS lebih rendah.
Namun, TDS bukan nilai ujian kesehatan. Angka rendah tidak membuktikan bahwa air bebas kuman atau seluruh bahan kimia berbahaya; angka yang lebih tinggi juga tidak otomatis berarti air tidak sehat. Yang penting adalah komposisi sebenarnya, keamanan mikrobiologi dan kimia, mutu proses, serta kesesuaiannya dengan tujuan penggunaan.
Apakah keduanya sama-sama dapat menghidrasi?
Ya. Bagi orang sehat, air mineral dan air demineral yang aman sama-sama menyediakan cairan yang dibutuhkan tubuh. Belum ada dasar kuat untuk menyatakan air demineral selalu lebih mudah diserap, membuat tubuh lebih cepat terhidrasi, menarik racun, atau secara umum meringankan kerja ginjal.
Mineral dalam air bukan obat, tetapi kalsium dan magnesium di dalam air dapat diserap tubuh dan ikut menyumbang asupan harian. Besarnya kontribusi berbeda pada setiap produk dan biasanya makanan tetap menjadi sumber mineral utama. Karena itu, air mineral atau air yang diremineralisasi dapat menjadi pilihan rasional untuk konsumsi harian, sementara air demineral yang memenuhi persyaratan juga tidak otomatis berbahaya ketika pola makan mencukupi kebutuhan zat gizi.
Apakah konsumsi air demineral jangka panjang menyebabkan kekurangan mineral?
Tidak tepat menyimpulkan bahwa air demineral otomatis menyebabkan kekurangan mineral. Makanan tetap menjadi sumber utama kalsium, magnesium, dan zat gizi lainnya. Namun, air demineral hampir tidak memberi tambahan mineral dari air minum. Bagi orang yang pola makannya sudah kurang beragam atau asupan kalsium dan magnesiumnya berada pada batas rendah, hilangnya kontribusi mineral dari air dapat menjadi faktor tambahan yang patut diperhatikan.
WHO menyatakan bahwa air minum dapat menyumbang asupan kalsium dan magnesium dan kontribusi tersebut bisa penting bagi orang yang asupannya marginal. Untuk pasokan yang mengalami demineralisasi, stabilisasi air diperlukan sebelum distribusi dan penambahan kembali kalsium serta magnesium dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan teknis dan kondisi setempat. WHO belum menetapkan kadar minimum mineral yang berlaku universal karena kebutuhan seseorang juga dipengaruhi pola makan dan faktor lain.
Jadi, pilihan yang bertanggung jawab bukan menakut-nakuti konsumen bahwa air demineral pasti berbahaya, melainkan memastikan air memenuhi persyaratan, sistemnya terkendali, pola makan mencukupi, dan kebutuhan kesehatan khusus dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Mengapa tes elektrolisis dapat menyesatkan?
Dalam demonstrasi penjualan, dua elektroda sering dimasukkan ke dalam sampel air. Air mineral dapat berubah menjadi cokelat, hijau, atau kehitaman, sedangkan air RO atau demineral tetap relatif jernih. Perubahan ini kemudian kadang-kadang disebut sebagai bukti adanya ‘racun’. Kesimpulan tersebut tidak tepat.
Mineral dan garam terlarut membuat air lebih mudah menghantarkan listrik. Ketika arus dialirkan, elektroda—terutama bila terbuat dari besi atau aluminium—dapat teroksidasi atau terkikis. Material dari elektroda kemudian bereaksi dan membentuk oksida atau hidroksida berwarna. Air demineral menghantarkan listrik jauh lebih lemah sehingga reaksi dan korosi elektrodanya lebih sedikit. Dengan demikian, warna dan endapan yang muncul sering kali terutama dibentuk selama demonstrasi, bukan gambaran langsung mengenai jumlah racun yang sudah ada di dalam air.
Konduktivitas dan TDS hanya memberikan gambaran umum tentang ion terlarut. Keduanya tidak dapat mengidentifikasi apakah ion tersebut merupakan kalsium yang lazim, natrium, nitrat, arsen, atau zat lain. Tes elektrolisis penjualan bukan pemeriksaan keamanan air. Penilaian keamanan memerlukan pengujian laboratorium dengan parameter mikrobiologi dan kimia yang dipilih berdasarkan sumber air serta tujuan penggunaannya.
Air paling murni belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk semua kebutuhan
Pemurnian yang sangat tinggi berguna untuk kebutuhan tertentu, termasuk proses industri, laboratorium, peralatan, atau air baku dengan risiko terlarut yang memang perlu dikurangi. Untuk air minum, hasil proses tetap perlu dinilai dari keamanan, kestabilan, rasa, sanitasi, dan kualitas pada titik konsumsi—bukan hanya dari kemampuan teknologi menurunkan TDS.
Air dengan mineral sangat rendah dapat terasa datar dan, bergantung pada pH, alkalinitas, serta kondisi sistem, dapat menjadi lebih agresif terhadap material perpipaan. Pada sistem tertentu, remineralisasi atau penyesuaian kimia dilakukan untuk memperbaiki rasa dan kestabilan air. Tahap tersebut harus dirancang dan dikendalikan, bukan sekadar menambahkan klaim ‘mineral’ pada produk.
Bagaimana menentukan pilihan dengan bijak?
Untuk konsumsi harian orang sehat, pilih air yang legal, aman, diproses dan disimpan secara higienis, serta rasanya membuat Anda cukup minum. Baca kategori produk dan informasi label; jangan menilai mutu hanya dari istilah mineral, demineral, RO, alkali, pegunungan, atau satu angka alat ukur.
Kebutuhan medis tidak boleh digeneralisasi. Orang dengan gangguan ginjal, jantung, tekanan darah, gangguan elektrolit, atau pembatasan cairan memerlukan arahan tenaga kesehatan berdasarkan diagnosis dan hasil pemeriksaan. Air demineral juga tidak otomatis steril atau cocok untuk semua obat dan susu formula; ikuti petunjuk produk serta rekomendasi tenaga kesehatan.
Di Indonesia, mineral dan demineral adalah kategori yang berbeda
Indonesia membedakan standar Air Mineral, Air Demineral, dan Air Mineral Alami. Permenperin Nomor 62 Tahun 2024 memberlakukan SNI secara wajib untuk kategori air minum dalam kemasan, termasuk SNI 3553:2023 untuk Air Mineral, SNI 6241:2023 untuk Air Demineral, dan SNI 6242:2023 untuk Air Mineral Alami.
Kategori yang berbeda berarti karakter produk dan prosesnya memang tidak sama, tetapi semuanya tetap harus memenuhi persyaratan yang berlaku untuk kategorinya. Logo, sumber, teknologi, atau nilai TDS bukan pengganti pengendalian proses, inspeksi sanitasi, pengujian laboratorium, dan penanganan kemasan yang benar.
Tujuh pertanyaan sebelum memilih air minum
- ✓Apakah produk atau layanan air minum memiliki identitas, izin, dan informasi kategori yang jelas?
- ✓Apakah keamanan mikrobiologi dan kimianya dikendalikan dan diverifikasi—bukan hanya kejernihan atau TDS?
- ✓Apakah kemasan, tangki, dispenser, pipa, dan titik pengisian dijaga higienis?
- ✓Apakah rasanya dapat diterima sehingga Anda dapat minum dalam jumlah yang sesuai kebutuhan?
- ✓Apakah klaim kesehatan didukung bukti, atau hanya menggunakan kata ‘murni’, ‘mineral’, ‘RO’, dan ‘detoks’ sebagai promosi?
- ✓Apakah demonstrasi penjualan benar-benar mengukur kontaminan tertentu, atau hanya menunjukkan TDS, konduktivitas, dan reaksi pada elektroda?
- ✓Jika memiliki kondisi kesehatan khusus, apakah pilihan air sudah dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi yang memahami kondisi Anda?
Perspektif ARS
ARS tidak menempatkan air mineral dan demineral sebagai dua kubu. Pilihan teknologi harus mengikuti Sumber Air × Penggunaan × Risiko × Umur Pakai. Untuk air minum, targetnya bukan mengejar TDS serendah mungkin, melainkan menghasilkan air yang aman, stabil, dapat diterima, realistis dirawat, dan terverifikasi hingga titik konsumsi. Untuk proses khusus, mutu air disesuaikan dengan kebutuhan proses dan perlindungan peralatan. Teknologi adalah alat untuk mencapai target yang benar—bukan alasan untuk membuat klaim kesehatan yang berlebihan.
Rujukan resmi
- WHO — Nutrients in drinking-water
- WHO — Calcium and magnesium in drinking-water: public health significance
- WHO — Guidelines for drinking-water quality
- USGS — Conductivity (electrical conductance) and water
- Kementerian Perindustrian RI — Permenperin No. 62 Tahun 2024
- US FDA — Safety and categories of bottled water
Materi ini bersifat edukasi umum. Informasi ini tidak menggantikan pengujian laboratorium, ketentuan setempat yang berlaku, atau asesmen profesional terhadap sistem air tertentu.
